Bekasi diguyur hujan deras selama tiga minggu berturut-turut pada Januari 2026. BPBD Kota Bekasi mencatat 47 kelurahan terdampak banjir dalam dua bulan pertama tahun ini — angka yang naik dari 31 kelurahan di periode yang sama tahun 2025. Data itu bukan sekadar statistik bencana; bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan membeli properti di Bekasi, peta ini adalah bahan bacaan wajib sebelum menandatangani apapun.
Artikel ini menyajikan data BPBD secara apa adanya, dipetakan per kecamatan, lengkap dengan ketinggian genangan dan durasi banjir. Bukan opini developer, bukan brosur — murni angka dari laporan posko darurat.
Metodologi: Dari Mana Data Ini Berasal?
BPBD Kota Bekasi mempublikasikan laporan harian posko bencana melalui akun resmi mereka dan diteruskan via platform Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) Jawa Barat. Data yang digunakan dalam artikel ini mencakup periode 5 Januari – 28 Februari 2026, dengan parameter:
- Ketinggian genangan (cm) saat puncak banjir
- Durasi genangan (jam)
- Jumlah KK terdampak per kelurahan
- Apakah banjir bersumber dari luapan sungai, rob, atau genangan lokal
Sumber sungai yang mempengaruhi wilayah Bekasi secara keseluruhan ada tiga: Kali Bekasi, Kali Cikeas, dan Kali Sunter bagian hulu. Kali Bekasi yang meluap menjadi pemicu terbesar pada kejadian Januari 2026.
Kecamatan dengan Genangan Tertinggi
Berikut ringkasan data per kecamatan untuk Kota Bekasi, diurutkan dari yang paling terdampak:
| Kecamatan | Kelurahan terdampak | Ketinggian puncak (cm) | Durasi rata-rata (jam) | Sumber banjir |
|---|---|---|---|---|
| Jatiasih | 6 dari 6 | 80–150 | 36–72 | Luapan Kali Cikeas |
| Rawalumbu | 4 dari 4 | 60–120 | 24–48 | Luapan Kali Bekasi |
| Mustikajaya | 4 dari 4 | 40–90 | 18–36 | Genangan lokal + Kali Bekasi |
| Bekasi Selatan | 3 dari 5 | 30–70 | 12–24 | Genangan lokal |
| Bekasi Timur | 3 dari 5 | 20–50 | 8–18 | Genangan lokal |
| Bekasi Barat | 2 dari 5 | 20–40 | 6–12 | Genangan lokal |
| Bekasi Utara | 1 dari 6 | 15–25 | 3–6 | Genangan lokal minor |
| Medansatria | 1 dari 4 | 10–20 | 2–4 | Genangan lokal minor |
Angka-angka itu bicara sendiri. Kawasan Jatiasih mencatatkan ketinggian genangan hingga 150 cm — setinggi dada orang dewasa — dengan durasi yang bisa melewati tiga hari. Sementara Bekasi Utara, yang berposisi lebih tinggi secara topografi, hanya mengalami satu kelurahan dengan genangan ringan di bawah 25 cm yang surut dalam hitungan jam.
Peta Deskriptif: Titik-titik Merah di Bekasi
Bayangkan peta Kota Bekasi dibagi tiga zona berdasarkan data ini:
Zona Merah (rawan tinggi): Kawasan Jatiasih bagian selatan dan barat, sepanjang bantaran Kali Cikeas dari Jatirangga hingga Jatikarya. Juga kawasan Rawalumbu — khususnya area antara Jl. Hankam dan Jl. Pengasinan — yang berulang kali masuk laporan posko setiap musim hujan. Ketinggian 80–150 cm, durasi genangan lebih dari 24 jam.
Zona Kuning (rawan sedang): Sebagian Mustikajaya (arah Jl. Caman dan sekitarnya), bagian tertentu Bekasi Selatan dekat Kali Bekasi lama, dan beberapa titik di Bekasi Timur bagian bawah. Genangan 30–90 cm, biasanya surut dalam 12–24 jam jika pompa kecamatan berfungsi.
Zona Hijau (aman atau minim risiko): Bekasi Utara bagian tengah dan barat — termasuk sepanjang koridor Jl. Raya Perjuangan — serta Medansatria bagian utara. Elevasi lebih tinggi dan drainase yang terhubung ke saluran primer Kota Bekasi membuat genangan hanya berlangsung 2–6 jam bahkan saat hujan ekstrem.
Mengapa Bekasi Utara Relatif Aman?
Ada dua faktor struktural yang membuat Bekasi Utara, khususnya koridor Jl. Raya Perjuangan, berada di zona aman. Pertama, ketinggian tanah. Secara rata-rata, kawasan ini berada 3–5 meter lebih tinggi dibanding bantaran Kali Bekasi yang menjadi titik luapan utama. Jarak horizontal ke Kali Bekasi dari koridor Perjuangan juga sekitar 2,5 km — cukup jauh untuk menghindari dampak langsung luapan.
Kedua, jaringan drainase makro Kota Bekasi dirancang membuang air ke arah utara-timur menuju Laut Jawa melalui Kali Bekasi dan cabang-cabangnya yang ada di sisi utara. Bekasi Utara justru berada di hulu sistem pembuangan ini, bukan di hilir tempat air menumpuk. Ini beda fundamental dibanding kawasan Jatiasih yang ada di posisi cekungan dari dua aliran sungai sekaligus.
Nah, ini bukan berarti Bekasi Utara anti-banjir dalam segala kondisi. Satu kelurahan yang tercatat terdampak ringan pada Januari 2026 berada di area yang drainase lokalnya tersumbat sampah — bukan masalah topografi, tapi masalah pemeliharaan. Bedanya signifikan.
Titik Banjir Spesifik: Kelurahan yang Perlu Diperhatikan
Beberapa kelurahan di Kecamatan Jatiasih yang berulang kali masuk laporan BPBD dua tahun berturut-turut (2025 dan 2026):
- Jatikarya: Berbatasan langsung dengan Kali Cikeas. Genangan reguler setiap hujan lebih dari 4 jam berturut-turut. Ketinggian puncak 2026: 130 cm.
- Jatirangga: Cekungan alami di antara dua anak sungai. Warga setempat sudah terbiasa memindahkan barang berharga ke lantai dua saat BMKG keluarkan peringatan dini. Ketinggian 2026: 150 cm.
- Jatiraden: Area yang sempat kering beberapa tahun karena normalisasi sungai, tapi mulai tergenang lagi sejak 2024 seiring sedimentasi berulang. Ketinggian 2026: 80 cm.
Di Kecamatan Rawalumbu, titik yang rutin masuk laporan adalah area antara Jl. Pramuka Raya dan Jl. Ahmad Yani bagian selatan — genangan 60–100 cm, sering mengganggu akses kendaraan selama 1–2 hari.
Apa Artinya Ini Bagi Pembeli Properti?
Kalau Anda sedang mempertimbangkan properti di Bekasi, data BPBD ini adalah salah satu parameter terkuat yang bisa Anda gunakan — lebih objektif dari klaim developer mana pun, lebih up-to-date dari peta risiko BNPB yang terakhir diperbarui 2023.
Langkah praktisnya: buka Google Maps, cari kelurahan dari properti yang Anda incar, lalu cocokkan dengan tabel di atas. Kalau masuk zona merah atau kuning, tanyakan ke developer: apakah ada peninggian tanah dan berapa elevasinya terhadap jalan? Apakah ada retention pond di dalam cluster? Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berguna dari pertanyaan "apakah pernah banjir?" — yang hampir selalu dijawab "tidak" oleh pihak penjual.
Soal data BPBD sendiri — Anda bisa mengaksesnya langsung melalui website resmi BPBD Kota Bekasi atau laporan Pusdalops Jawa Barat. Untuk periode sebelum 2024, arsip laporan bisa diminta via email resmi BPBD. Ini kerja sedikit, tapi nilainya jauh lebih besar dari 10 kali kunjungan ke showroom mana pun.
Jika Anda tertarik melihat secara langsung bagaimana kawasan Jl. Raya Perjuangan dirancang — termasuk sistem drainase dan elevasinya — detail lokasi Kingspoint ada di sini. Data BPBD untuk Bekasi Utara, termasuk zona sekitar Perjuangan, konsisten masuk kategori paling rendah risikonya di antara seluruh kecamatan Kota Bekasi.
Update: Rencana Infrastruktur Drainase 2026–2027
Dinas PU Kota Bekasi menganggarkan Rp 48 miliar untuk normalisasi Kali Bekasi segmen Rawalumbu–Bekasi Selatan dalam APBD 2026. Pekerjaan dijadwalkan mulai Maret 2026, dengan target selesai sebelum musim hujan Oktober. Apabila proyek ini berjalan sesuai rencana, zona kuning di Bekasi Selatan dan Rawalumbu berpotensi turun satu level risikonya.
Sementara itu, BPBD juga melaporkan pengadaan 12 unit pompa portable tambahan untuk ditempatkan di titik-titik genangan prioritas — 4 di antaranya dialokasikan untuk Kecamatan Jatiasih. Ini langkah penanganan cepat, bukan solusi struktural, tapi cukup untuk memperpendek durasi genangan dari 72 jam menjadi 24–36 jam saat kejadian serupa berulang.
Untuk sistem yang lebih permanen — retensi air di tingkat cluster — baca juga penjelasan teknis tentang polder, retention pond, dan biopori yang kini mulai diwajibkan di perumahan baru Bekasi.