Danantara Housing Expo 2026 ditutup pada Minggu, 30 Agustus 2026, setelah empat hari digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Nilai proyek yang tercatat sekitar Rp2 triliun.

Angka itu jadi menarik begitu ditaruh di sebelah targetnya sendiri. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyebut sasaran yang dipasang panitia:

"Target transaksi kita kurang lebih... paling tidak itu sampai Rp6 hingga Rp10 triliun, yang kita harapkan."

Jadi realisasinya kira-kira sepertiga dari batas bawah target. Bukan meleset tipis.

Yang bikin angkanya aneh: pengunjungnya justru ramai

Kalau pameran sepi, hasil Rp2 triliun tidak perlu dibahas. Masalahnya pameran ini tidak sepi. Dony Oskaria menyebut Danantara Housing Expo dikunjungi kurang lebih 10.000 orang setiap harinya, atau sekitar 40 ribu orang selama empat hari. Lebih dari 130 pengembang BUMN dan swasta ikut, dengan lebih dari 360 ribu unit dipajang di tiga zona: First Home, Family Home, dan Premium Living.

Nah, dari sisi BUMN saja, 12 perusahaan membawa 16.559 unit dari 98 proyek yang tersebar di 23 provinsi, dengan nilai inventori Rp9,79 triliun.

Yang dibawa ke pameranAngka
Pengunjung~10.000 orang per hari (4 hari)
Pengembang peserta130+ BUMN dan swasta
Unit dipajang360.000+ unit
Inventori 12 BUMN sajaRp9,79 triliun (16.559 unit, 98 proyek, 23 provinsi)
Nilai proyek tercatat~Rp2 triliun
Target panitiaRp6-10 triliun

Rp2 triliun itu bahkan belum seperlima dari inventori yang dibawa dua belas BUMN, sebelum menghitung ratusan pengembang swasta lainnya. Artinya sebagian besar yang dipajang di aula itu pulang lagi tanpa pembeli.

Ramai melihat, sedikit menandatangani. Ini sinyal apa?

Kombinasi trafik tinggi dan konversi rendah menyempitkan daftar kemungkinan penyebabnya.

Kalau yang kurang adalah minat, pengunjungnya tidak akan 40 ribu. Kalau yang kurang adalah pilihan, tidak akan ada 360 ribu unit di tiga zona. Yang tersisa sebagai penjelasan adalah hal-hal yang terjadi setelah calon pembeli berdiri di depan stan: kemampuan lolos pembiayaan, kecocokan harga dengan kantong, dan keyakinan untuk menandatangani sesuatu yang cicilannya belasan tahun.

Buat pembeli, sinyal yang paling bisa dipakai bukan angka Rp2 triliunnya. Melainkan bahwa stok yang dipajang di pameran nasional terbesar tahun ini sebagian besar masih ada begitu pameran tutup.

Stok yang tidak terjual sesudah etalase terbesar dibuka adalah stok yang masih harus dijual di bulan-bulan berikutnya. Makanya posisi duduk di meja negosiasi kuartal empat tidak sama dengan kuartal tiga, terutama untuk unit yang sudah berdiri dan tinggal dihuni. Pergerakan pasokan dan harga rumah seken sudah kami bahas terpisah di catatan soal harga rumah sekunder yang tumbuh di bawah inflasi.

Ada data lain yang menunjuk ke arah yang sama

Dugaan bahwa hambatannya ada di tahap pembiayaan tidak berdiri sendiri. Beberapa angka yang terbit lebih dulu tahun ini mengarah ke titik yang sama.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat penyaluran KPR per Maret 2026 tumbuh 4,79 persen secara tahunan. Setahun sebelumnya, di periode yang sama, laju itu 16,31 persen. Jadi bukan berhenti, tapi melambat sampai kurang dari sepertiga kecepatan sebelumnya, sementara kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 12,67 persen sampai Juni 2026. KPR melaju jauh lebih pelan daripada kredit pada umumnya.

Di sisi kualitas, rasio kredit bermasalah KPR tercatat 3,14 persen pada Maret 2026, dan NPL kredit properti perbankan 3,24 persen pada Februari 2026. Angka-angka itu belum masuk kategori mengkhawatirkan, tapi arahnya naik. Bank yang melihat rasio macetnya merangkak biasanya merespons dengan cara yang sama: memeriksa berkas lebih lama dan menilai agunan lebih konservatif.

IndikatorAngka terakhirPembanding
Pertumbuhan KPR (yoy)4,79% (Mar 2026)16,31% (Mar 2025)
Pertumbuhan kredit perbankan (yoy)12,67% (Jun 2026)—
NPL KPR3,14% (Mar 2026)NPL gross perbankan 2,09% (Jun 2026)
NPL kredit properti3,24% (Feb 2026)—

Rangkaian ini menjelaskan kenapa aula bisa penuh sementara meja akad relatif sepi. Orang datang, melihat, suka, lalu berhenti di tahap yang tidak ada di dalam gedung pameran: persetujuan bank.

Empat hal yang tidak boleh disimpulkan dari angka ini

Sebelum dipakai sebagai amunisi tawar-menawar, ada beberapa batasan yang jujur perlu disebut.

  1. "Nilai proyek" pameran itu angka lunak. Ia mencampur booking, komitmen, dan akad yang benar-benar jadi. Tidak ada audit di belakangnya, dan sebagian pesanan pameran biasanya gugur di tahap persetujuan bank. Angka target Rp6-10 triliun juga harapan panitia, bukan proyeksi yang disusun lembaga independen.
  2. Ini agregat nasional, bukan potret Bekasi. Inventori BUMN tadi tersebar di 23 provinsi. Kondisi stok satu proyek di Bekasi Utara tidak bisa disimpulkan dari total 23 provinsi.
  3. Sebagian besar isi pameran adalah segmen yang berbeda. Porsi besar unit BUMN adalah rumah bersubsidi dengan aturan penghasilan dan spesifikasi tersendiri. Pembeli rumah komersial di koridor Bekasi bermain di pasar lain, dengan pesaing dan pembiayaan yang lain juga.
  4. Satu pameran bukan tren. Empat hari di satu lokasi adalah satu titik data. Ia jadi berarti kalau sejalan dengan indikator lain, dan kehilangan arti kalau berdiri sendirian.

Soalnya kesalahan paling mahal dalam membaca berita properti adalah memperlakukan angka nasional seolah-olah itu harga di satu alamat.

Lalu apa yang berubah di meja negosiasi?

Yang berubah bukan harganya. Yang berubah adalah pertanyaan yang layak Anda ajukan.

Empat pertanyaan itu berlaku di mana pun, tapi bobotnya naik di pasar yang stoknya lagi menumpuk. Cara membaca sisi permintaan rumah primer sudah kami uraikan di ulasan penjualan rumah primer kuartal II 2026, dan strategi berkunjung ke pameran itu sendiri ada di panduan sebelum datang ke Danantara Housing Expo yang kami tulis sebelum acaranya dibuka.

Kalau target Anda rumah tapak di Bekasi Utara

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menilai pameran ini tetap memberikan kontribusi nyata bagi Program 3 Juta Rumah lewat kolaborasi ekosistemnya. Penilaian itu masuk akal dari sisi kebijakan. Dari sisi Anda sebagai pembeli tunggal, yang lebih berguna adalah bagian yang membosankan: unitnya sudah berdiri atau belum, sertifikatnya bagaimana, lokasinya kena banjir atau tidak.

Kingspoint Private Residences berada di Jl. Raya Perjuangan, Kota Bekasi Utara, di daerah bebas banjir, sekitar 5 menit ke Stasiun Bekasi dan Summarecon Mall, serta sekitar 10 menit ke gerbang Tol Bekasi Barat. Rumah Emerald 70 tersedia ready stock: 2 lantai, LT 47,25 m², LB 70 m², dimensi 4,5 m × 10,5 m, pondasi bor pile, di harga Rp 700 juta-an sudah termasuk PPN dengan cicilan mulai Rp 5 juta per bulan. Untuk kebutuhan usaha, Ruko Sapphire tersedia 3 lantai plus rooftop, LT 72 m², LB 172 m², daya 2200 VA, di kisaran Rp 1,9 M-an.

Perbedaan pokoknya sederhana: unit yang sudah berdiri bisa Anda datangi, ukur, dan lihat kondisi lingkungannya hari ini juga. Stok pameran yang belum dibangun hanya bisa dinilai dari brosur. Di pasar yang lagi banyak barang, kemampuan memverifikasi sendiri itu justru yang paling berharga.